
Jauh dari rumah, keluarga, dan rutinitas yang selama ini terasa akrab, kuliah di luar negeri sering kali tidak seindah yang dibayangkan. Di balik foto-foto kampus yang megah dan pengalaman baru yang tampak seru. Rasa rindu akan rumah bisa datang tiba-tiba dan mengganggu fokus belajar. Itu disebut Homesick
Homesick adalah hal yang sangat wajar dialami oleh mahasiswa internasional, terutama di masa-masa awal adaptasi. Namun, jika perasaan ini dibiarkan berlarut-larut, dampaknya bisa serius—mulai dari penurunan motivasi belajar hingga gangguan kesehatan mental. Lantas, bagaimana cara mengatasi homesick agar pengalaman kuliah di luar negeri tetap menyenangkan, bermakna, dan berdampak positif bagi pengembangan diri?
Tetap Terhubung dengan Keluarga dan Teman
Salah satu cara paling efektif untuk mengatasi homesick adalah dengan tetap menjaga komunikasi dengan keluarga dan teman-teman di rumah. Berkat kemajuan teknologi, kamu dapat dengan mudah melakukan video call, bertukar pesan, atau berbagi cerita melalui media sosial. Meskipun secara fisik berjauhan, menjaga koneksi emosional dengan orang-orang terdekat dapat memberikan rasa nyaman dan kehangatan yang sangat dibutuhkan.
Namun, penting untuk tetap menjaga keseimbangan. Terlalu terpaku pada rumah justru bisa menghambat proses adaptasi di lingkungan baru. Luangkan waktu untuk membangun koneksi di tempatmu berada sekarang, karena membuka diri terhadap pengalaman baru adalah bagian penting dari perjalanan kuliah di luar negeri.
Membentuk Rutinitas Harian
Membangun rutinitas harian yang terstruktur dapat membantumu menciptakan rasa disiplin dan kestabilan. Dalam upaya mengatasi homesick, mengatur waktu secara seimbang untuk belajar, beristirahat, berolahraga, dan bersosialisasi sangat penting agar hari-harimu terasa lebih terarah.
Rutinitas ini akan membantumu terhindar dari perasaan terombang-ambing dan memberikan fokus yang lebih jelas. Selain itu, memiliki jadwal harian yang konsisten dapat membuatmu merasa lebih terhubung dengan diri sendiri, sekaligus mengurangi perasaan bingung atau hampa yang sering muncul saat proses adaptasi.
Bersosialisasi Dengan Lingkungan Baru
Kelilingi dirimu dengan teman-teman baru di tempat perantauan—orang-orang yang membuatmu merasa nyaman dan bisa diandalkan. Di lingkungan baru, kamu tidak lagi dikelilingi oleh orang tua dan sahabat lama. Karena itu, saat kamu membutuhkan bantuan atau sekadar tempat bercerita, kehadiran teman-teman baru bisa menjadi penopang emosional yang penting.
Membangun hubungan yang positif tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri dan kesejahteraan mental, tetapi juga dapat menggantikan, untuk sementara waktu, peran keluarga dan orang-orang terdekat di rumah. Dukungan sosial seperti ini akan sangat membantumu beradaptasi dan menjalani hari-hari di perantauan dengan lebih ringan.
BACA JUGA: Jurusan Favorit yang Menjadi Pilihan Utama Oleh Banyak Orang
Leave a Reply