
Mimpi kuliah di luar negeri sering kali terdengar begitu menggiurkan. Dikelilingi oleh kampus bergengsi, pengalaman lintas budaya, hingga peluang karier yang menjanjikan di masa depan. Namun, di balik deretan foto estetik dan kisah sukses yang menghiasi media sosial, ada sisi lain yang jarang dibicarakan.
Perbedaan budaya yang mencolok, tekanan akademik yang tidak ringan. Serta rasa rindu terhadap rumah dan orang-orang tercinta menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi para mahasiswa. Kuliah di luar negeri bukan sekadar soal gengsi atau gelar. Melainkan sebuah perjalanan panjang yang menuntut kemampuan beradaptasi dan kekuatan mental yang kuat.
Culture Shock
Tantangan pertama yang kerap dihadapi para dosen ketika melanjutkan studi ke luar negeri adalah culture shock atau kejutan budaya. Secara sederhana, culture shock adalah kondisi ketika seseorang merasa terkejut, canggung, bahkan tertekan karena perbedaan budaya yang mencolok. Hal ini bisa muncul dalam berbagai bentuk—mulai dari kebiasaan masyarakat, Jenis makanan yang dikonsumsi, gaya berperilaku, hingga cara berkomunikasi. Menariknya, culture shock tidak hanya terjadi ketika seseorang kuliah di luar negeri, tetapi juga bisa dialami saat pindah ke luar kota atau luar pulau. Dalam salah satu konten di kanal YouTube Mimbar Intelek, dijelaskan bahwa kondisi ini adalah hal yang wajar dan hampir pasti dirasakan oleh siapa pun yang menempuh pendidikan di lingkungan baru.
Karena itu, penting bagi calon mahasiswa atau dosen untuk memahami budaya dan kebiasaan masyarakat di tempat tujuan sebelum berangkat. Agar memiliki kesiapan mental dalam menghadapi berbagai perbedaan yang ada. Sisanya adalah soal kesabaran dan waktu, karena proses beradaptasi tidak bisa terjadi seketika. Memahami bahwa culture shock adalah bagian alami dari proses transisi. Akan membantu siapa pun menjalani masa studi dengan lebih tenang dan terbuka terhadap pengalaman baru.
Kesulitan Berbahasa
Salah satu tantangan lain yang kerap dihadapi saat kuliah di luar negeri adalah kesulitan berbahasa, baik secara aktif maupun pasif. Keterbatasan kemampuan bahasa dapat menghambat komunikasi sehari-hari serta proses belajar, seperti membaca, menulis, dan menyimak materi perkuliahan. Hal ini sering kali menjadi beban tambahan, terutama di awal masa studi ketika proses adaptasi masih berlangsung.
Sebuah studi menemukan bahwa hambatan komunikasi di lingkungan akademik disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kesulitan memahami aksen lokal, keterbatasan kosakata, serta penggunaan terminologi khusus dalam konteks perkuliahan. Semua ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan efektivitas dalam mengikuti pembelajaran, sehingga penting bagi mahasiswa untuk mempersiapkan kemampuan bahasa sebaik mungkin sebelum berangkat.
Perbedaan Sistem Birokrasi dan Pendidikan
Tantangan lain yang sering dihadapi mahasiswa saat kuliah di luar negeri adalah perbedaan sistem birokrasi dan sistem pendidikan. Setiap negara memiliki aturan, kebijakan pendidikan, serta sistem hukum yang berbeda dalam mengatur kehidupan masyarakatnya. Perbedaan ini kerap menjadi kendala bagi mahasiswa internasional, terutama saat harus menyesuaikan diri dengan prosedur administrasi kampus atau gaya belajar yang berbeda dari yang biasa mereka temui di Indonesia.
Untuk itu, sangat disarankan untuk berdiskusi dengan kakak tingkat atau dosen senior yang pernah menempuh studi di perguruan tinggi atau negara yang sama. Melalui pengalaman mereka, kita bisa memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai sistem birokrasi dan pendidikan di negara tujuan. Persiapan semacam ini akan membantu mengurangi rasa terkejut terhadap perbedaan yang ada dan mempercepat proses adaptasi selama menjalani studi.
BACA JUGA: Rekomendasi Universitas Terbaik yang Terkenal Dengan Jurusan IT
Leave a Reply