
Di tengah persaingan akademik yang semakin ketat di era global, tekanan untuk terus berprestasi sering kali menjadi beban tersendiri bagi pelajar dan mahasiswa. Tuntutan nilai tinggi, pencapaian target akademik, serta ekspektasi dari lingkungan sekitar dapat memberikan tekanan psikologis yang signifikan, terutama jika tidak diimbangi dengan manajemen stres dan dukungan emosional yang memadai.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang krusial. Keseimbangan antara performa akademik dan kondisi psikologis harus dijaga agar individu dapat terus belajar, berkembang, dan menghadapi berbagai tantangan akademik dengan cara yang sehat dan berkelanjutan. Lingkungan pendidikan yang suportif serta kesadaran akan pentingnya kesehatan mental menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi pembelajar yang tangguh.
Temukan Support System Anda
Penting bagi para mahasiswa untuk memiliki orang orang yang dapat memberikan dukungan. Baik secara emosional, informasional, maupun melalui bantuan nyata. Teman, keluarga, pembimbing akademik, atau dosen yang dirasa nyaman untuk diajak berdiskusi dapat menjadi bagian dari sistem pendukung yang membantu mahasiswa melewati berbagai tantangan akademik dan pribadi. Memendam masalah atau menghindarnya hanya akan memperburuk keadaan, karena tidak semua persoalan bisa diselesaikan sendiri.
Rasa cemas menjelang ujian, kurangnya minat terhadap jurusan yang dipilih. Atau tekanan untuk selalu berprestasi dari lingkungan sekitar sering kali menjadi beban mental yang berat. Namun, beban itu bisa terasa lebih ringan ketika dibagikan kepada orang orang yang menjadi sistem pendukung kita. Mereka bisa memberikan penguatan secara emosional, menawarkan saran yang dibutuhkan, atau bahkan membantu secara langsung, seperti menjelaskan materi yang sulit dipahami atau menjadi perantara komunikasi antara mahasiswa dan pihak lain jika dibutuhkan. Dukungan seperti ini sangat berharga untuk menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan keberhasilan akademik mahasiswa.
Batasi Dalam Penggunaan Media Sosial
Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial dapat memicu stres, kecemasan, dan menurunkan rasa percaya diri. Melihat pencapaian orang lain secara terus menerus tanpa memahami konteks di baliknya bisa membuat seseorang merasa tidak cukup baik atau tertinggal. Jika dibiarkan, hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan motivasi belajar.
Oleh karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara bijak. Sebagai alat untuk belajar, membangun jejaring positif, dan menyebarkan hal hal yang bermanfaat. Jika merasa lelah secara mental, pertimbangkan untuk melakukan digital detox setidaknya sekali dalam seminggu. Mengambil jeda sejenak dari dunia digital dapat membantu menyegarkan pikiran, mengurangi tekanan sosial. Dan mengembalikan fokus pada hal hal yang benar benar penting.
Kelola Waktu Anda Dengan Baik
Beban tugas yang dirasa berat oleh mahasiswa sering kali disebabkan oleh kurangnya kemampuan dalam mengelola waktu. Tugas yang menumpuk bukan selalu karena jumlahnya. Melainkan akibat kebiasaan menunda-nunda pengerjaan hingga mendekati tenggat waktu. Akibatnya, beberapa tugas harus diselesaikan sekaligus dalam waktu singkat. Yang tentu saja terasa melelahkan dan membebani secara mental.
Untuk menghindari hal tersebut, penting bagi mahasiswa untuk menyusun timetable dan menetapkan target penyelesaian tugas secara realistis. Segara mulai mengerjakan tugas begitu diberikan, meski dari langkah sederhana seperti mencari referensi. Membuat kerangka tulisan, atau bertanya jika ada bagian yang belum dipahami. Tentukan skala prioritas dengan mengerjakan tugas yang memiliki tenggat paling dekat terlebih dahulu. Jangan lupa beri apresiasi pada diri sendiri ketika berhasil menyelesaikan tugas lebih cepat dari batas waktu. Entah itu dengan menikmati makanan favorit, menonton film, bersantai bersama teman, atau memanjakan diri di salon. Mengelola waktu dengan baik bukan hanya membantu menyelesaikan tugas tepat waktu. Tapi juga menjaga keseimbangan antara akademik dan kesehatan mental.
BACA JUGA: Cross-Cultural Learning: Cara Baru Meningkatkan Kompetensi Global Mahasiswa
Leave a Reply