
Selama bertahun-tahun, perbincangan tentang inovasi pendidikan dunia kerap didominasi oleh negara-negara maju. Kita mengenal Finlandia karena sistem pendidikannya yang progresif. Korea Selatan karena kedisiplinannya, atau Singapura karena kualitas akademiknya yang tinggi. Namun dalam satu dekade terakhir, angin perubahan mulai bertiup dari arah yang berbeda—yakni dari negara-negara berkembang.
Dengan tantangan sosial, ekonomi, dan infrastruktur yang jauh lebih kompleks. Negara-negara berkembang justru mulai menunjukkan gebrakan yang tak hanya kreatif. Tapi juga relevan dan berdampak luas secara global. Mereka tidak sekadar mengejar ketertinggalan, tetapi mulai memimpin arah baru pendidikan: yang lebih inklusif, kontekstual, dan berbasis solusi nyata.
Artikel ini akan mengulas bagaimana negara berkembang berkontribusi pada transformasi pendidikan dunia, dan mengapa peran mereka kini tak bisa lagi diabaikan.
1. Mendorong Inovasi Berbasis Tantangan Lokal
Salah satu kekuatan utama negara berkembang adalah kemampuan berinovasi di tengah keterbatasan. Di tempat di mana akses internet masih terbatas, gedung sekolah belum merata. Dan jumlah guru berkualitas masih kurang, banyak negara justru melahirkan solusi pendidikan yang orisinal dan adaptif.
Contoh konkret:
-
Kenya melalui platform Eneza Education, menyediakan materi belajar via SMS dan USSD untuk siswa di daerah tanpa internet.
-
Bangladesh menjalankan sekolah perahu (boat schools) yang mengarungi sungai agar anak-anak tetap bisa belajar meski wilayah mereka kebanjiran.
-
India memimpin dunia dalam pengembangan aplikasi edtech murah seperti Byju’s yang menggabungkan teknologi dan pembelajaran berbasis animasi untuk jutaan siswa.
Inovasi-inovasi ini membuktikan bahwa teknologi tinggi bukan satu-satunya jalan menuju pendidikan berkualitas. Justru, pendekatan yang membumi dan sesuai konteks lokal mampu menjangkau kelompok yang selama ini tertinggal dalam sistem pendidikan formal.
2. Membawa Perspektif Baru tentang Tujuan Pendidikan
Jika negara maju sering kali menekankan prestasi akademik dan skor ujian, negara berkembang mulai memunculkan pendekatan pendidikan yang lebih holistik dan berbasis kebutuhan nyata masyarakat. Pendidikan bukan hanya soal masuk universitas bergengsi, tetapi tentang mengentaskan kemiskinan, memberdayakan komunitas, dan membangun keberlanjutan.
Contohnya:
-
Indonesia dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), yang mendorong sekolah-sekolah menjadi tempat ramah anak dan menekankan pembelajaran berbasis empati, kolaborasi, dan karakter.
-
Kolombia dengan model Escuela Nueva, yang mengubah pendidikan pedesaan menjadi pengalaman belajar yang demokratis, mandiri, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
-
Ghana dan beberapa negara Afrika lainnya mulai menanamkan pendidikan kewirausahaan sejak dini, dengan harapan membentuk generasi muda yang mandiri secara ekonomi.
Pendekatan ini memperluas definisi “berhasil” dalam pendidikan. Nilai tidak hanya dilihat dari angka, tapi dari sejauh mana pendidikan membawa perubahan sosial nyata.
3. Menginspirasi Dunia Lewat Model Pendidikan Alternatif
Ketika dunia menghadapi tantangan global seperti ketimpangan pendidikan, perubahan iklim, atau krisis pasca-pandemi, model pendidikan dari negara berkembang justru mulai dipelajari dan diadopsi secara global. Mereka membuktikan bahwa solusi tak harus datang dari tempat yang sudah mapan, melainkan dari mereka yang paling merasakan dampaknya secara langsung.
Misalnya:
-
UNESCO menjadikan Escuela Nueva dari Kolombia sebagai salah satu model pendidikan inovatif tingkat dunia.
-
Program Bridge International Academies yang lahir di Kenya kini telah merambah ke India, Nigeria, dan Liberia—dengan sistem sekolah berbasis teknologi murah.
-
Banyak negara mulai belajar dari kebijakan inklusi pendidikan di Amerika Latin, yang berhasil meningkatkan angka partisipasi anak dari kelompok marjinal.
Ini menunjukkan bahwa arus pengetahuan dalam pendidikan kini tidak lagi satu arah. Negara berkembang bukan hanya penerima, tapi juga produsen ide-ide baru yang layak diperhitungkan dalam diskursus global.
BACA JUGA: Negara-Negara Kecil yang Mampu Melampaui Raksasa Pendidikan Dunia
Leave a Reply