Setiap negara memiliki pendekatan tersendiri dalam mengelola sistem pendidikannya. Perbedaan budaya, nilai, ekonomi, hingga filosofi tentang belajar membentuk kebijakan-kebijakan yang unik—bahkan terkadang terdengar tidak biasa jika dibandingkan dengan sistem pendidikan yang kita kenal. Namun, kebijakan yang dianggap aneh di satu tempat bisa jadi justru inovatif dan berhasil di tempat lain.

Di berbagai belahan dunia, ada banyak contoh kebijakan pendidikan yang tak hanya menarik, tetapi juga membuka cakrawala baru tentang bagaimana seharusnya proses belajar itu berlangsung. Beberapa negara menerapkan pendekatan yang lebih bebas, sementara yang lain fokus pada kesejahteraan anak. Artikel ini akan mengulas tiga kebijakan pendidikan yang unik dari berbagai negara—yang mungkin belum pernah Anda dengar sebelumnya—namun patut untuk dipelajari dan dijadikan inspirasi.


1. Finlandia – Tidak Ada PR dan Ujian Nasional Sampai Remaja

Finlandia sudah lama menjadi sorotan dunia karena sistem pendidikannya yang menempati peringkat atas global, meski terlihat sangat “santai” di permukaan. Salah satu kebijakan paling unik mereka adalah:

  • Tanpa pekerjaan rumah (PR) rutin untuk anak-anak di tingkat dasar.

  • Tidak ada ujian nasional standar hingga akhir masa sekolah menengah atas.

  • Hari sekolah yang lebih singkat dan banyak waktu untuk bermain.

Meski terkesan tidak disiplin, pendekatan ini justru berhasil karena menekankan pada pembelajaran yang mendalam, bukan sekadar menghafal. Guru memiliki kebebasan untuk menentukan metode mengajar sesuai kebutuhan siswa. Anak-anak pun tumbuh tanpa tekanan akademik berlebihan, sehingga keseimbangan antara prestasi dan kesehatan mental dapat terjaga.

Finlandia menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus keras untuk menghasilkan siswa yang berkualitas. Sebaliknya, rasa aman, dukungan emosional, dan pendekatan individual menjadi kunci keberhasilan mereka.


2. Denmark – Pelajaran Empati Jadi Kurikulum Wajib

Sementara banyak sekolah di dunia fokus pada matematika, sains, dan bahasa, Denmark menempatkan empati sebagai mata pelajaran inti. Sejak 1993, negara ini telah mewajibkan pelajaran empati (klassens tid) bagi siswa berusia 6 hingga 16 tahun.

Apa yang dilakukan dalam pelajaran ini?

  • Siswa diajak berdiskusi terbuka tentang masalah pribadi, dinamika sosial di kelas, atau topik emosional tertentu.

  • Guru menjadi fasilitator untuk membimbing proses mendengarkan, memahami, dan memberi dukungan.

  • Tujuannya adalah membangun komunitas belajar yang sehat secara emosional dan mendorong tumbuhnya rasa peduli terhadap orang lain.

Penelitian menunjukkan bahwa siswa Denmark memiliki tingkat kepuasan hidup dan kebahagiaan yang tinggi, dan salah satunya diyakini karena penerapan pendidikan empati secara konsisten. Dengan kemampuan sosial dan emosional yang kuat, mereka juga lebih siap bekerja sama di lingkungan kerja global kelak.


3. Jepang – Anak-anak Membersihkan Sekolah Sendiri

Salah satu tradisi yang mungkin mengejutkan orang asing adalah fakta bahwa di Jepang, tidak ada petugas kebersihan khusus di sekolah dasar dan menengah. Sebaliknya, siswa bertanggung jawab langsung atas kebersihan ruang kelas, toilet, lorong, bahkan halaman sekolah.

Tradisi ini dikenal dengan sebutan osoji, dan didasari pada filosofi bahwa:

  • Sekolah adalah rumah kedua yang harus dijaga bersama.

  • Tanggung jawab pribadi dan kolektif harus diajarkan sejak dini.

  • Kebersihan adalah bagian dari karakter, bukan hanya tugas orang lain.

Hasilnya? Siswa Jepang tumbuh dengan rasa hormat terhadap lingkungan dan pekerjaan orang lain, serta kebiasaan hidup bersih yang terbawa hingga dewasa. Selain itu, kegiatan membersihkan sekolah juga membangun kerja sama tim dan memperkuat etika kerja.

BACA JUGA: Bagaimana Negara Berkembang Mengubah Arah Pendidikan Dunia?