
Yogyakarta tak hanya dikenal sebagai kota budaya dan destinasi wisata, tetapi juga memiliki identitas yang kuat sebagai Kota Pelajar. Julukan ini bukan sekedar label, melainkan cerminan nyata dari peran penting Yogyakarta dalam dunia pendidikan. Sebuah kota yang telah menjadi tempat lahir dan tumbuhnya banyak generasi intelektual bangsa. Mulai dari sekolah unggulan hingga perguruan tinggi ternama. Yogyakarta selalu menjadi magnet bagi ribuan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia. Suasana kota yang tenang, biaya hidup yang relatif terjangkau, serta lingkungan yang ramah dan kondusif untuk pelajar. Menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin menimba ilmu di kota ini.
Tak hanya soal jumlah institusi pendidikan, semangat belajar dan kultur intelektual. Yang tumbuh di tengah masyarakat Yogyakarta juga turut memperkuat identitas ini. Di setiap sudut kota, kita bisa merasakan atmosfer akademis yang kental baik di ruang ruang kelas, kafe diskusi, perpustakaan. Hingga komunitas komunitas kreatif yang aktif menggelar berbagai kegiatan edukatif. Lalu, apa sebenarnya yang membuat Yogyakarta begitu layak menyandang predikat Kota Pelajar? Mari kita telusuri lebih dalam alasan alasan di balik julukan istimewa ini.
Memiliki Sejarah Pendidikan yang Panjang dan Berakar Kuat
Sejak zaman dahulu, Yogyakarta telah dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dalam jurnal Yogyakaria: Kota Pendidikan dan Ekonomi Alternatif yang ditulis oleh Sugiyanto. Disebutkan bahwa sejarah pendidikan di kota ini bahkan telah dimulai jauh sebelum sistem tulisan dikenal di Nusantara.
Pada masa itu, masyarakat menerapkan metode pendidikan tradisional yang dikenal dengan nama Tunggak Semi. Sistem ini dijalankan di berbagai padepokan, seperti Padepokan Pacrabakan dan Wihara. Yang berperan ini menjadi bukti bahwa sejak berabad abad silam. Kegiatan belajar mengajar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Yogyakarta. Pendidikan bukan hanya soal sekolah dan gelar, tetapi telah menjadi budaya dan nilai yang mengakar kuat dalam perjalanan sejarah kota ini.
Banyak Lahir Lembaga Pendidikan Pada Zaman Belanda
Ketika Belanda datang ke Indonesia, mereka membawa berbagai pengaruh baru, termasuk dalam bidang pendidikan, khususnya di Yogyakarta. Salah satu kontribusi terbesar mereka adalah memperkenalkan konsep pendidikan formal yang mencakup berbagai aspek seperti pertanian, bahasa, kebudayaan, dan hukum. Di Yogyakarta, pemerintah kolonial mendirikan sejumlah sekolah yang masih beroperasi hingga hari ini. Seperti SMA Negeri 3 dan SMP Negeri 5. Tak hanya itu, masa kolonial juga menjadi periode penting bagi lahirnya lembaga pendidikan pribumi yang berpengaruh besar terhadap arah pendidikan nasional.
Dua di antaranya adalah Muhammadiyah, yang didirikan pada tahun 1912, dan Perguruan Taman Siswa yang lahir pada 1922 atas prakarsa Ki Hadjar Dewantara. Tokoh visioner yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Keduanya menjadi tonggak penting dalam perjuangan pendidikan yang lebih inklusif, berkarakter, dan membebaskan dari sistem kolonial yang elitis dan diskriminatif.
Kehadiran Universitas-universitas Terkemuka
Salah satu alasan utama Yogyakarta mendapat julukan Kota Pelajar adalah karena keberadaan berbagai universitas terkemuka yang telah berkontribusi besar terhadap kemajuan pendidikan nasional. Yang paling menonjol adalah Universitas Gadjah Mada (UGM), yang didirikan pada tahun 1949. UGM tidak hanya menjadi universitas pertama yang berdiri setelah kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan pendidikan tinggi yang merdeka, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan bangsa.
Selain UGM, Yogyakarta juga menjadi rumah bagi sejumlah institusi pendidikan tinggi ternama lainnya. Universitas Islam Indonesia (UII), misalnya, telah berdiri sejak tahun 1945 dan menjadi salah satu pionir pendidikan Islam modern di Indonesia. Ada pula Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang dikenal unggul dalam bidang pendidikan dan keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, serta Institut Seni Indonesia (ISI) yang menjadi pusat pendidikan seni dan budaya.
Dengan lebih dari 100 lembaga pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta, Yogyakarta menawarkan hampir semua cabang ilmu pengetahuan—mulai dari teknik, hukum, ekonomi, hingga seni dan humaniora. Kombinasi antara kualitas akademik, lingkungan yang kondusif, serta budaya intelektual yang kuat menjadikan kota ini magnet bagi para pelajar dari seluruh penjuru Indonesia.
BACA JUGA: Universitas Dunia yang Berfokus Pada Pendidikan Sejarah
Leave a Reply