Kuliah di China sering kali terdengar begitu menjanjikan—mulai dari kualitas pendidikan yang tinggi, kemajuan teknologi yang pesat, hingga kekayaan budaya yang mendalam dan unik. Negeri Tirai Bambu ini telah menjadi destinasi studi populer bagi banyak mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia. Gedung-gedung kampus yang megah, fasilitas modern, dan lingkungan belajar yang kompetitif menjadi daya tarik utama yang sulit diabaikan.

Namun, di balik semua itu, realitas hidup sebagai mahasiswa internasional di China tak selalu berjalan semulus harapan. Di tengah pesona kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, atau Guangzhou, banyak mahasiswa mengalami kejutan budaya (culture shock) yang tak terduga. Beradaptasi dengan gaya hidup, kebiasaan lokal, dan lingkungan baru bisa menjadi proses yang melelahkan, terutama di awal masa perkuliahan. Perbedaan cara berpikir, bahasa, ritme hidup, hingga makanan, semuanya bisa menjadi sumber kejutan tersendiri.

Mulai dari rutinitas harian yang terasa asing hingga cara orang berinteraksi yang sangat berbeda dengan budaya Indonesia, berikut ini adalah tiga culture shock paling umum yang sering dialami oleh mahasiswa internasional di China.


1. Polusi Udara dan Betapa Pentingnya Masker

Salah satu hal yang paling mengejutkan, khususnya bagi mahasiswa Indonesia yang terbiasa dengan langit biru dan udara relatif bersih, adalah tingkat polusi udara di China. Di kota-kota besar seperti Beijing atau Tianjin, langit sering tampak abu-abu, terutama saat musim dingin atau ketika indeks polusi sedang tinggi. Bahkan, ada hari-hari di mana jarak pandang terbatas karena kabut asap yang tebal menyelimuti kota.

Bagi masyarakat lokal, memeriksa prakiraan cuaca dan indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) setiap pagi sudah menjadi kebiasaan penting sebelum memulai aktivitas. Hal ini bukan hanya untuk melihat apakah hari akan hujan atau cerah, tetapi juga untuk menentukan apakah udara cukup sehat untuk beraktivitas di luar. Jika indeks menunjukkan angka berbahaya, mereka akan segera mengenakan masker, membatasi waktu di luar ruangan, atau menyalakan alat pemurni udara di rumah dan kamar.

Sebagai mahasiswa internasional, kamu pun perlu membiasakan diri dengan kebiasaan ini. Pastikan kamu memiliki persediaan masker yang cukup—lebih disarankan menggunakan masker N95 yang efektif menyaring partikel polusi. Selain itu, menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan saat kualitas udara memburuk bisa membantu menjaga kesehatan selama masa studi.


2. Bahasa yang Berbeda Jauh

Bahasa Mandarin bisa menjadi tantangan terbesar, terutama bagi mereka yang benar-benar memulai dari nol. Tidak sedikit mahasiswa Indonesia yang tiba di China tanpa kemampuan dasar bahasa Mandarin, dan penulis sendiri termasuk di antaranya. Awalnya, sangat sulit untuk memahami percakapan sehari-hari, membaca tanda-tanda di jalan, atau sekadar memesan makanan di kantin kampus.

Hal ini bisa membuat frustrasi dan bahkan menurunkan kepercayaan diri. Banyak mahasiswa merasa minder saat harus berinteraksi atau takut melakukan kesalahan saat berbicara. Namun, seiring waktu, kamu akan mulai terbiasa. Pelajaran bahasa yang diberikan di kampus, interaksi dengan teman lokal, dan penggunaan aplikasi penerjemah bisa sangat membantu dalam proses adaptasi.

Kuncinya adalah konsistensi dan kemauan untuk belajar. Meski tidak mudah, kemajuan akan terasa dari waktu ke waktu. Dari yang awalnya hanya bisa tersenyum bingung saat diajak bicara, kamu akan mulai memahami kata-kata dasar, lalu merangkai kalimat, hingga akhirnya mampu berkomunikasi dengan lancar. Proses ini memang membutuhkan waktu, tapi hasilnya akan sangat memuaskan.


3. Gaya Hidup yang Serba Cepat

China adalah negara yang dikenal dengan gaya hidupnya yang cepat dan efisien. Hal ini terasa jelas di kehidupan sehari-hari, mulai dari bagaimana orang berjalan, bekerja, hingga bagaimana sistem transportasi beroperasi. Universitas di China pun tidak jauh berbeda. Jadwal kuliah bisa sangat padat, diselingi dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seminar, hingga proyek kelompok.

Mahasiswa diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan ritme ini. Tidak jarang hari-hari terasa sangat sibuk, bahkan hingga malam hari. Waktu luang menjadi barang langka, dan kemampuan mengatur waktu sangat diuji. Bagi mahasiswa asing yang terbiasa dengan ritme yang lebih santai, kondisi ini bisa menjadi kejutan besar.

Di luar kampus, kehidupan kota besar pun berjalan cepat. Transportasi umum seperti kereta bawah tanah (subway) sangat efisien, tetapi juga sangat padat, terutama di jam sibuk. Antrian panjang dan gerakan cepat masyarakat lokal bisa membuat kewalahan jika belum terbiasa. Namun, dengan waktu dan pengalaman, kamu akan mulai terbiasa dengan pola ini—bahkan mungkin akan mulai menikmatinya karena efisiensinya.

BACA JUGA: Skill Internasional vs Gelar Akademik: Mana yang Lebih Dicari Dunia Kerja?